Sunday, 15 October 2017

love letter

Untukmu, temanku…
Sore ini, lapangan terasa sangat sepi, setidaknya untukku. Tawa, canda, dan irama pantulan bola yang mengenai kerasnya lapangan mengisi kelelahan anak-anak atas full day school yang memang menguras pikiran. Sore ini, sepi. Setidaknya untukku. Kepada kalian, yang sengaja mengacuhkanku, menganggapku tidak ada.
Ketika senja menjemput dan temaram lampu kota menghiasi langkah kita untuk menuju parkiran, apakah ada yang berniat mengajak berbicara? Bersepi sendiri diantara tawa dan canda kalian rupanya tidak menyenangkan. Lantas apa? Aku hanya diam.
Lelahlah aku, berjuang memperbaiki hubungan. Jikalau tidak ada yang bisa belajar apa itu menghargai. Suara angkuh yang makin meninggi, tanda menguasai segalanya. Sudah begitu, aku harus apa? Forum dalam forum itu tidak sehat. Bolehlah kau asik sendiri dengan teman lainnya, aku tak melarang. Tetapi, bolehkah kau anggap aku sebagai manusia yang punya hati juga? Diacuhkan dan dibalas dengan suara yang kian hari kian meninggi itu sama sekali tidak menyenangkan. Lalu kau kata aku bawa perasaan? Sungguh, engkau yang tidak punya hati. Otak apalagi.
Sore ini semakin sepi. Setidaknya untukku dan hatiku. Walau keadaan yang makin ramai oleh tawa, yang kurasa sebagai siksa. Katakanlah aku lemah, katakanlah aku payah. Bahwa aku tidak tahan dengan keadaan yang telah kalian buat. Entah punya tujuan atau tidak, yang jelas kubenci.

Senja menjemput, kemudian aku tersenyum. Senja terakhirku di lapangan, disambut para teman yang mengangkat sebelah alis –heran. Aku tetap membisu, lalu kuraih tasku dan berjalan menuju trotoar—sendiri yang dihiasi temaram lampu kota. Tak ada yang mengajak berbicara, apalagi bercanda. Tetapi, bibir ini tetap tersenyum. Bebanku terangkat sebagian. Untukmu kawan, semoga cepatlah sadar. Hilangkan angkuh mu itu, bercanda tidak seserius itu. Dari aku, Manusia Yang Terlalu Berperasaan.